LAW DEBATE ACADEMY I LDHK
" Alur Nalar Pembicara Filosofis, Yuridis Normatif, dan Sosiologis Empiris".
Rabu, 21 Oktober 2026 _ Nutrihub Manado
Dalam sebuah debat hukum, kemenangan tidak ditentukan oleh siapa yang paling lantang berbicara, tetapi oleh siapa yang paling tertata dalam menyusun nalar. Satu mosi yang sama dapat dibela dengan sangat berbeda, tergantung bagaimana setiap pembicara membangun alur argumennya.
Di sinilah Lembaga Debat Hukum dan Konstitusi (LDHK) melalui Departemen Debat dan Kompetisi menyelenggarakan Law Debate Academy I dengan tema “ALUR NALAR PEMBICARA FILOSOFIS, YURIDIS NORMATIF, DAN SOSIOLOGIS EMPIRIS”. Kegiatan ini berlangsung pada pukul 18.00 WITA hingga selesai dan bertujuan membekali kader dengan pemahaman tentang pembagian peran antarpembicara, sehingga argumen yang dibangun satu tim tumbuh berlapis, konsisten, dan tidak saling tumpang tindih.
Materi disampaikan oleh Putra Suma, S.H., Demisioner Ketua Umum Lembaga Debat Hukum dan Konstitusi Periode 2025/2026.
──────────────────────────────────────
Pemateri mengawali sesi dengan menjelaskan bahwa dalam format Asian Parliamentary, satu tim terdiri dari tiga pembicara. Pembagian peran yang ideal membuat argumen tumbuh berlapis, dengan tiga pertanyaan kunci sebagai landasannya:
1.) Filosofis Historis – Mengapa mosi penting? Mencakup definisi, latar belakang, dan urgensi keberpihakan terhadap mosi.
2.) Yuridis Normatif – Apa dasar hukumnya? Mencakup teori dan landasan yuridis, serta peraturan perundang-undangan.
3.) Sosiologis Empiris – Bagaimana faktanya? Mencakup data, fakta, dan komparasi, termasuk perbandingan antarnegara.
Pembicara 1: Filosofis Historis
Pembicara pertama bertugas meletakkan fondasi nilai dan arah tim dengan menjawab pertanyaan mengapa mosi ini penting. Ada tiga unsur yang harus dihadirkan:
1.) Definisi – Menyamakan makna istilah kunci mosi agar batas perdebatan jelas dan tidak dibelokkan oleh lawan.
2.) Latar Belakang – Menelusuri sejarah, nilai dasar, dan akar masalah, yakni dari mana persoalan ini bermula.
3.) Urgensi Keberpihakan – Menjelaskan nilai yang dibela dan alasan tim harus berpihak pada mosi saat ini.
Pembicara 2: Yuridis Normatif
Pembicara kedua membangun kerangka hukum yang mengikat dengan menjawab pertanyaan apa dasar hukumnya. Materi ini terbagi dalam dua bagian:
1.) Teori dan Landasan Yuridis – Meliputi teori hukum (keadilan, kepastian, dan kemanfaatan), asas hukum dan doktrin para ahli, serta putusan pengadilan sebagai rujukan.
2.) Peraturan Perundang-undangan – Meliputi UUD 1945, Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, dan Peraturan Daerah. Pemateri mencatat bahwa hierarki ini disederhanakan, dan peserta dapat merujuk pada UU 12/2011 jo. UU 13/2022.
Pembicara 3: Sosiologis Empiris
Pembicara ketiga menghadirkan bukti nyata dan pembanding dengan menjawab pertanyaan bagaimana faktanya:
1.) Data dan Fakta – Berupa statistik dan survei, laporan lembaga resmi, serta kasus dan putusan nyata.
2.) Komparasi Antarnegara – Memilih negara yang relevan, membandingkan kebijakan dan hasilnya, lalu menarik pelajaran untuk mosi.
──────────────────────────────────────
Contoh Alur pada Satu Mosi
Agar materi mudah dipahami, pemateri memberikan ilustrasi pada mosi “Dewan ini akan menghapus pidana mati”:
1.) Pembicara 1 (Filosofis Historis) – Menjelaskan pidana mati sebagai pencabutan nyawa oleh negara, menelusuri sejarah dan perdebatan nilai hidup, serta menegaskan urgensi bahwa kekeliruan tidak dapat dipulihkan.
2.) Pembicara 2 (Yuridis Normatif) – Mengangkat hak hidup dalam UUD 1945 Pasal 28A dan 28I, pengaturan pidana mati dalam KUHP baru, serta komitmen HAM internasional Indonesia.
3.) Pembicara 3 (Sosiologis Empiris) – Menyajikan data vonis dan eksekusi, tren penghapusan pidana mati di berbagai negara, serta riset tentang efek jera.
Pemateri menekankan bahwa setiap pembicara menutup dengan satu kalimat jembatan ke pembicara berikutnya.
Tiga Pembicara, Satu Bangunan Argumen
Alur nalar tim bergerak dari mengapa, ke apa dasarnya, lalu bagaimana faktanya. Agar tiga pembicara menjadi satu bangunan argumen yang utuh, ada empat prinsip yang perlu dipegang:
1.) Satu garis tim – Definisi dan kerangka argumen konsisten dari awal hingga akhir.
2.) Tidak tumpang tindih – Setiap pembicara menggarap lapisannya sendiri.
3.) Saling menjembatani – Ditutup dengan kalimat pengantar ke pembicara berikutnya.
4.) Responsif pada sanggahan – Menjawab lawan tanpa keluar dari peran masing-masing.
─────────────────────────────────────
Law Debate Academy I ini menjadi bekal penting bagi kader LDHK untuk tampil sebagai tim yang solid, di mana setiap pembicara memahami perannya dan saling menguatkan dalam satu bangunan argumen. Kegiatan ini sekaligus menjadi pijakan bagi LDHK untuk terus menghadirkan pelatihan yang membentuk kader handal, visioner, dan siap berkompetisi di berbagai level.
Pemikir Kritis, Penutur Santun, Eksekutor Bijak
Salam Konstitusi ✊🏻
#KABINETARUNICA
#LDHKFHUNSRAT